Ref: https://wordpress.tv/2017/12/15/alexandra-draghici-my-wordpress-story/
Intro: Dari hobi jadi kerjaan sehari-hari
- Saya sudah 13 tahun lebih bekerja menggunakan WordPress
- Saya tidak punya latar belakang pendidikan tentang programming atau ilmu komputer di bangku kuliah
- Saya kuliah ambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Suka WordPress karena butuh duit. Ya, semua orang butuh duit kan?
Part 1: Dari Blogspot ke WordPress
- Perkenalan saya dengan WordPress dimulai dari blogging. Ada yang tahu blogging? Intinya semacam konten kreator jaman dulu lah.
- Platfrom blogging yg saya pake waktu itu adalah Blogspot. Lalu tiba-tiba ada platform blogging yg lebih mudah dikustomisasi, yaitu WordPress (desainnya dapat kita atur sendiri).
- WordPress memberikan kontrol penuh terhadap desain. Dari sini saya mulai belajar Photoshop, HTML, dan CSS.
- Kurang lebih selama 6 bulan belajar desain web secara otodidak, saya beranikan diri kerja handle proyek profesional pertama: website katalog produk. AlhamduLillah dari satu proyek website ini saya dapet income tiap bulan, kurang lebih selama 2 tahun. Gak hanya mendesain website, saya juga dipercaya handle internet marketingnya & web maintenance.
Part 2: Konsisten Belajar & Eksperimen
- Di mana saya belajar waktu itu? web/blog tutorial, forum, Mbah Google. Anak sekarang kenal istilah “Mbak Google” gak ya?
- Sekitar 2012 saya bikin tema WordPress saya sendiri dan saya distribusikan secara gratis. Dari sini saya mulai dapat lebih banyak peluang. Oh ya, tema adalah desain tampilan website dengan ciri khas tertentu. Ini disain pertama saya: {tampilkan desain}
- Gak hanya tema, saya juga eksplorasi ekosistem WordPress lainnya. Saya bikin plugin untuk WordPress. Plugin adalah software untuk nambahin fitur tertentu untuk WordPress.
Part 3: WordPress Bisa Jadi Jalan Rezeki Siapa Saja
Nah, apa sih inti sari dari semua yang saya ceritain tadi? Sederhana banget sebenernya, temen-temen. WordPress itu gratis, mudah dipelajari, dan ada potensi pasarnya — tiga hal ini yang bikin saya sampai sejauh ini.
Coba bayangin: saya bukan anak IT, bukan lulusan teknik, bukan juga dari keluarga yang ngerti dunia digital. Saya cuma anak Bahasa Inggris yang iseng nyoba-nyoba karena pengen punya penghasilan tambahan. Dan ternyata, dengan modal nekat, rajin browsing tutorial, dan konsisten praktek, semuanya bisa dipelajari.
WordPress tuh ekosistemnya sangat ramah untuk pemula — dokumentasinya lengkap, komunitasnya besar, dan yang paling penting, banyak orang dan bisnis di luar sana yang butuh jasanya.
Jadi kalau temen-temen sekarang lagi mikir “kayaknya saya gak bisa deh”, saya mau bilang: dulu saya juga mikir gitu. Tapi nyatanya bisa. Kuncinya cuma satu: mulai aja dulu, sambil jalan nanti belajar sendiri.
Part 4: WordPress Bisa Ngapain Aja?
Oke, sekarang saya mau kasih tahu seberapa luas sebenernya dunia WordPress itu. Banyak orang masih mikirnya WordPress itu cuma buat blog — nulis artikel, posting opini, gitu-gitu doang. Padahal udah jauh banget perkembangannya, temen-temen.
Sekarang WordPress dipakai buat macem-macem: toko online, website portofolio, landing page produk, website membership, bahkan aplikasi berbasis web yang lumayan kompleks. Kalau temen-temen pernah beli sesuatu dari toko online kecil-menengah, besar kemungkinan itu dibangun pakai WordPress — tepatnya pakai plugin WooCommerce yang emang khusus buat e-commerce.
Ada angka yang saya suka banget buat dibagiin: kurang lebih 43% dari seluruh website di dunia itu ditenagai oleh WordPress. Empat puluh tiga persen! Itu bukan angka kecil. Artinya hampir separuh internet yang kita browsing sehari-hari itu ada WordPress-nya di balik layar.
Terus ekosistemnya juga kaya banget. Ada ribuan tema untuk tampilan, puluhan ribu plugin untuk fitur tambahan, dan sekarang ada page builder seperti Elementor yang bikin kita bisa drag-and-drop desain website tanpa nulis kode sama sekali. Jadi mau belajar dari level mana pun — dari yang sama sekali belum ngerti kode sampai yang udah mahir coding — WordPress tetap relevan dan ada tempatnya.
Tapi yang bikin WordPress beda dari platform lain sebenernya bukan cuma fiturnya — tapi nilai yang ada di baliknya. WordPress itu software open source, dan misinya jelas banget: democratize publishing. Artinya, WordPress percaya bahwa siapa pun — tanpa terkecuali — berhak punya suara di internet. Mau kamu pengusaha kecil di Tegal, pelajar di desa, ibu rumah tangga yang punya passion nulis, atau siapa pun — kamu berhak punya website sendiri, berhak publish kontenmu sendiri, tanpa harus minta izin siapa-siapa dan tanpa biaya lisensi yang mahal.
Ini bukan sekadar slogan. WordPress menjamin 4 kebebasan nyata buat semua penggunanya. Pertama, kebebasan untuk menjalankan softwarenya untuk tujuan apa pun — mau buat bisnis, hobi, atau proyek sosial, bebas. Kedua, kebebasan untuk mempelajari cara kerjanya dan mengubahnya sesuai kebutuhan kita — jadi kita gak cuma jadi pengguna pasif, tapi bisa betul-betul menguasai alatnya. Ketiga, kebebasan untuk menyebarkannya ke orang lain — kalau kamu ngerasa WordPress bermanfaat, kamu boleh bantu orang lain pakai WordPress juga, tanpa ada larangan. Keempat, kebebasan untuk mendistribusikan versi yang sudah kamu modifikasi — jadi kalau kamu bikin tema atau plugin keren, kamu bebas bagi-bagiin ke komunitas. Empat kebebasan ini yang bikin ekosistem WordPress terus tumbuh dan berkembang sampai sekarang, karena semua orang boleh ikut berkontribusi.
Part 5: Mulai dari Mana?
Nah ini pertanyaan yang paling sering saya dapet: “Mas, kalau mau mulai belajar WordPress, dari mana?” Oke, saya kasih jalurnya yang paling realistis.
Pertama, install dulu WordPress di laptop sendiri. Ada tools namanya LocalWP — gratis, gampang, dan bikin kita bisa eksplor WordPress sesuka hati tanpa takut salah atau rusak, karena semua cuma ada di komputer kita sendiri. Di sini temen-temen bisa utak-atik tema, coba-coba plugin, lihat hasilnya langsung. Ini fase “bermain” yang paling penting sebelum masuk ke proyek nyata.
Kedua, soal belajar dari mana — sekarang sumbernya berlimpah. Ada dokumentasi resmi di wordpress.org yang lengkap banget, YouTube penuh tutorial dari yang basic sampai advanced, dan ada komunitas WordPress Indonesia yang aktif kalau mau diskusi atau tanya-tanya. Gak ada alasan susah cari bahan belajar.
Ketiga, jangan langsung ngejar proyek besar. Mulai dari jasa yang paling realistis dulu — bantu orang update konten websitenya, bantu setup tema, atau jasa maintenance rutin. Kedengarannya kecil, tapi dari situ portofolio terbentuk dan kepercayaan klien mulai tumbuh. Oh ya, soal portofolio — project fiktif pun bisa jadi modal awal. Bikin website dummy yang bagus, itu sudah cukup untuk ditunjukkan ke calon klien pertama.
Dan yang terakhir — ini yang paling penting dari semuanya — konsistensi itu jauh lebih berharga dari bakat. Saya bukan orang paling pinter di bidang ini. Tapi saya konsisten. Konsisten belajar, konsisten praktek, konsisten ambil peluang walau kecil. Tiga belas tahun kemudian, saya masih di sini, masih pakai WordPress, dan masih terus berkembang. Temen-temen juga bisa.
Part 6: Dukungan Komunitas
Nah, bicara soal belajar dan berkembang — saya mau kasih tahu satu hal yang sering dilewatin orang: komunitas. Belajar sendiri itu bisa, tapi belajar bareng komunitas itu levelnya beda, temen-temen.
Di Tegal sendiri, kita punya yang namanya Komunitas WordPress Tegal — atau biasa disebut WP Tegal. Ini bukan komunitas asal-asalan ya. WordPress Meetup Tegal adalah official chapter dari program resmi WordPress global, sejajar dengan chapter-chapter WordPress lain yang tersebar di seluruh dunia — dari Amerika, Eropa, Asia, sampai sini, Tegal, Jawa Tengah. Jadi kalau temen-temen ikut WP Tegal, temen-temen sebenernya udah jadi bagian dari ekosistem komunitas WordPress internasional.
Meetup-nya rutin diadakan sebulan sekali, setiap tanggal 25, di Trasa Co-Working Space, Slawi. Acaranya santai banget — format ngobrol, sharing, kadang ada sesi hands-on, kadang juga sekadar ngafe bareng sambil kerja di proyek masing-masing. Semua kegiatan dijalankan oleh relawan, dan yang paling penting: gratis dan terbuka untuk siapa saja. Gak peduli latar belakang pendidikan, profesi, tingkat keahlian, gender — semua welcome. Karena inklusivitas memang jadi prioritas komunitas ini.
Kenapa worth it buat gabung dan aktif di sini? Pertama, networking yang nyata. Di setiap meetup temen-temen bisa ketemu langsung dengan developer, desainer, digital marketer, content writer, dan pelaku bisnis digital dari Tegal dan sekitarnya. Banyak peluang kolaborasi dan proyek yang lahir dari pertemuan-pertemuan kayak gini. Kedua, belajar dari orang yang udah praktek — bukan cuma teori. Sharing di WP Tegal itu genuine, dari pengalaman nyata, bukan hafalan slide. Ketiga, komunitas ini juga punya rekam jejak event yang nggak main-main: WP Tegal pernah menyelenggarakan WordCamp Tegal 2023 dengan format WordCamp NextGen — salah satu dari 13 pilot event proyek NextGen WordPress di seluruh dunia, dan sekaligus workshop WordPress for Enterprise pertama di Indonesia. Itu pencapaian yang luar biasa untuk komunitas dari kota seperti Tegal.
Jadi kalau temen-temen serius mau tumbuh di dunia WordPress, jangan cuma belajar sendirian di kamar. Gabung ke komunitasnya. Hadir ke meetup-nya. Kenalan sama orang-orangnya. Karena perjalanan yang saya jalani selama 13 tahun ini juga gak lepas dari koneksi dan dukungan komunitas. Temen-temen bisa mulai dari sini — dari Tegal, dari WP Tegal, dari pertemuan berikutnya.

